7 Tips Membuat Brosur UMKM yang Menarik dan Mudah Dipahami
Di tengah promosi yang semakin banyak dilakukan melalui media sosial, brosur mungkin terlihat seperti media pemasaran yang konvensional. Namun, untuk banyak pelaku UMKM, brosur masih memiliki fungsi yang cukup praktis karena dapat diberikan langsung kepada calon pelanggan, ditempatkan di toko, dibagikan saat pameran, maupun disertakan bersama produk. Tantangannya, cetak brosur yang bagus tidak cukup hanya mengandalkan warna cerah dan desain yang ramai. Brosur harus mampu menyampaikan pesan dalam waktu singkat, karena kebanyakan orang tidak akan membaca setiap kalimat dari awal hingga akhir. Informasi utama perlu terlihat dengan cepat, desain harus membantu pembaca menemukan hal penting, dan kualitas cetak perlu mendukung tampilan visualnya. Karena itu, membuat brosur UMKM yang efektif membutuhkan perencanaan sejak menentukan tujuan hingga mengecek hasil cetaknya.
Brosur yang dirancang dengan baik pada dasarnya bekerja seperti seorang tenaga penjual dalam bentuk cetak. Ia memperkenalkan produk, menjelaskan manfaat, menampilkan informasi penting, lalu mengarahkan pembaca menuju langkah berikutnya. Bedanya, brosur harus melakukan semua itu dalam ruang yang relatif terbatas.
Artinya, semakin banyak informasi yang dimiliki sebuah usaha bukan berarti semuanya harus dimasukkan ke dalam brosur. Justru kemampuan memilih informasi yang paling relevan akan menentukan apakah materi tersebut mudah dipahami atau malah membuat pembaca kehilangan fokus.

Brosur masih relevan digunakan UMKM sebagai media promosi saat bazar, pameran, dan interaksi langsung dengan pelanggan.
Apakah Brosur Masih Relevan untuk Promosi UMKM?
Promosi digital memang memberikan jangkauan yang luas, tetapi kebutuhan komunikasi bisnis tidak selalu berhenti di layar ponsel. Dalam berbagai situasi, materi cetak masih berguna sebagai pendamping komunikasi langsung, misalnya ketika UMKM mengikuti bazar, pameran, kegiatan komunitas, presentasi produk, atau menerima kunjungan pelanggan. Brosur juga dapat disimpan dan dibaca kembali ketika calon pembeli membutuhkan informasi lebih lanjut. Karena itu, media promosi cetak dan digital tidak selalu harus dipertentangkan.
Bagi UMKM, brosur dapat menjadi alat untuk menjelaskan produk secara lebih terstruktur dibanding sekadar kartu nama. Di dalamnya, pelaku usaha bisa memperkenalkan bisnis, menampilkan produk unggulan, menjelaskan layanan, mencantumkan kontak, serta memberikan ajakan yang jelas kepada calon pelanggan.
Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada cara brosur disusun. Adobe dalam panduan desain brosurnya menyebut bahwa pembaca cenderung memindai atau melakukan skimming terhadap isi brosur, bukan membacanya seperti sebuah buku. Karena itu, paragraf pendek, callout, judul bagian, gambar, dan ruang kosong membantu informasi lebih mudah ditemukan.
Hal inilah yang membuat proses desain seharusnya dimulai dari pertanyaan sederhana: “Apa yang ingin diketahui atau dilakukan calon pelanggan setelah menerima brosur ini?”
7 Tips Membuat Brosur UMKM yang Menarik dan Efektif
Tidak ada satu desain brosur yang cocok untuk seluruh jenis bisnis. Brosur restoran tentu memiliki kebutuhan berbeda dengan jasa renovasi, toko perlengkapan kantor, bengkel, usaha makanan, lembaga pendidikan, atau penyedia jasa profesional. Meskipun demikian, prinsip dasarnya relatif sama: informasi harus mempunyai prioritas, tampilan harus membantu pembaca memahami pesan, dan format fisik perlu sesuai dengan cara brosur digunakan. Dengan pendekatan tersebut, desain tidak sekadar terlihat menarik tetapi juga berfungsi sebagai alat komunikasi.
Berikut tujuh hal yang dapat diperhatikan sebelum melakukan cetak brosur untuk kebutuhan promosi UMKM.
1. Tentukan Tujuan Brosur Sebelum Mulai Mendesain
Kesalahan yang cukup mudah terjadi adalah langsung membuka aplikasi desain sebelum mengetahui apa sebenarnya tujuan brosur tersebut. Akibatnya, hampir seluruh informasi mengenai usaha dimasukkan dalam satu lembar karena semuanya dianggap penting.
Padahal, tujuan yang jelas akan membantu menentukan informasi mana yang perlu diprioritaskan. Brosur untuk memperkenalkan bisnis baru tidak harus memiliki struktur yang sama dengan brosur untuk mempromosikan produk tertentu atau mengumumkan program diskon.
Cobalah menentukan satu tujuan utama terlebih dahulu.
Apakah brosur dibuat untuk:
- memperkenalkan usaha kepada calon pelanggan;
- menampilkan katalog produk utama;
- mempromosikan layanan tertentu;
- mengumumkan promo atau paket penjualan;
- mengarahkan pelanggan ke toko atau marketplace;
- mendapatkan pertanyaan melalui WhatsApp;
- atau mendukung promosi saat pameran dan acara tertentu?
Jika tujuan utamanya adalah mendapatkan pertanyaan melalui WhatsApp, misalnya, kontak dan ajakan menghubungi usaha harus terlihat jelas. Sebaliknya, jika brosur digunakan sebagai katalog ringkas, ruang yang lebih besar dapat diberikan kepada foto, nama produk, dan informasi utama tiap produk.
Tujuan ini akan menjadi dasar seluruh keputusan berikutnya, mulai dari jumlah halaman, ukuran brosur, hingga penempatan call to action.
2. Pilih Informasi yang Benar-Benar Dibutuhkan Pembaca
Ruang pada brosur terbatas. Karena itu, kemampuan menyederhanakan informasi menjadi salah satu bagian paling penting dalam desain brosur. Memasukkan terlalu banyak teks justru dapat membuat pesan utama tenggelam.
Adobe menekankan bahwa materi cetak sebaiknya mempunyai hierarki konten yang jelas agar pembaca dapat segera mengenali informasi yang paling penting. Ruang kosong atau white space juga bukan area yang terbuang, tetapi bagian desain yang membantu memisahkan kelompok informasi dan mengarahkan perhatian pembaca.
Untuk brosur promosi UMKM, informasi dapat disusun berdasarkan tingkat kepentingannya.
Pada bagian yang paling mudah terlihat, biasanya cukup tampilkan:
Nama usaha atau merek
Pembaca perlu mengetahui siapa yang menawarkan produk atau layanan tersebut.
Pesan utama
Jelaskan dalam satu kalimat apa yang ditawarkan atau manfaat utama yang diberikan.
Produk atau layanan unggulan
Tidak semua produk harus ditampilkan apabila jumlahnya banyak. Pilih yang paling relevan dengan tujuan brosur.
Informasi pendukung
Harga, fitur, keunggulan, area layanan, atau informasi lain dapat dimasukkan jika benar-benar membantu proses keputusan calon pelanggan.
Kontak dan ajakan bertindak
Nomor WhatsApp, website, alamat toko, akun media sosial, QR code, atau marketplace dapat menjadi jalur lanjutan setelah pembaca tertarik.
Cara sederhananya adalah membaca kembali seluruh teks kemudian bertanya: “Kalau kalimat ini dihapus, apakah calon pelanggan kehilangan informasi penting?”
Jika jawabannya tidak, kemungkinan kalimat tersebut memang tidak perlu memenuhi ruang brosur.
3. Buat Hierarki Visual agar Informasi Mudah Dipindai
Ketika seseorang menerima brosur, matanya tidak selalu bergerak dari pojok kiri atas kemudian membaca seluruh halaman baris demi baris. Biasanya perhatian lebih dahulu tertarik pada judul besar, foto, harga, promosi, atau elemen yang paling dominan.
Itulah alasan hierarki visual sangat penting. Desain perlu memberitahu pembaca secara tidak langsung mengenai bagian mana yang perlu diperhatikan terlebih dahulu.
Canva menjelaskan bahwa hierarki tipografi dapat dibangun melalui beberapa tingkat informasi. Level paling tinggi digunakan untuk informasi utama, level berikutnya membantu mengelompokkan bagian, sedangkan teks isi digunakan untuk penjelasan yang lebih detail. Pendekatan ini membantu pembaca menavigasi sebuah desain dengan lebih cepat.
Dalam praktiknya, hierarki dapat dibuat seperti ini:
Tingkat pertama: judul utama atau penawaran.
Tingkat kedua: nama produk, subjudul, harga, atau manfaat utama.
Tingkat ketiga: deskripsi dan informasi pendukung.
Tidak semua elemen perlu dibuat besar, tebal, dan berwarna mencolok. Jika semuanya menonjol, pembaca justru tidak mengetahui mana yang harus diperhatikan.
Gunakan perbedaan ukuran teks, ketebalan huruf, warna, jarak, dan posisi untuk membentuk urutan baca yang logis.
4. Hindari Desain yang Terlalu Ramai
Keinginan membuat brosur terlihat menarik terkadang membuat pemilik usaha memasukkan banyak warna, berbagai jenis font, ikon, ilustrasi, foto, pola, dan efek sekaligus. Hasilnya memang penuh, tetapi belum tentu efektif.
Desain yang baik seharusnya membantu pesan terbaca, bukan bersaing dengan pesan tersebut.
Panduan Adobe mengenai desain cetak menyarankan penggunaan ruang kosong untuk menciptakan fokus dan menghindari kekacauan visual. Adobe juga menyebut penggunaan margin, kolom, dan panduan tata letak dapat membantu membentuk hubungan visual yang lebih teratur.
Untuk brosur UMKM, pendekatan sederhana sering kali lebih aman:
gunakan warna yang sesuai dengan identitas merek, batasi jumlah jenis huruf, pertahankan jarak yang cukup antarbagian, dan gunakan foto yang benar-benar membantu menjelaskan produk.
Bila merek sudah memiliki logo, warna, dan tipografi tertentu, gunakan elemen tersebut secara konsisten. Brosur akan terasa sebagai bagian dari promosi UMKM yang sama dengan banner, media sosial, kemasan, maupun materi pemasaran lainnya.
5. Pilih Ukuran dan Bentuk Brosur Sesuai Cara Penggunaannya
Ukuran bukan hanya persoalan estetika. Pilihan format memengaruhi jumlah informasi yang dapat dimuat, biaya produksi, kemudahan membawa brosur, serta cara pembaca berinteraksi dengannya.
Format seri A seperti A4 dan A5 mengikuti sistem ukuran kertas ISO 216. ISO 216 merupakan standar internasional yang mengatur ukuran kertas seri A dan B untuk berbagai keperluan administratif, komersial, serta sejumlah materi cetak.
A4, misalnya, berukuran 210 × 297 mm. Format ini dapat digunakan sebagai brosur satu lembar ataupun diolah menjadi format lipat sesuai kebutuhan.
Namun, jangan memilih format hanya karena paling sering digunakan.
Untuk menentukan ukuran brosur, pertimbangkan beberapa hal:
Jumlah informasi
Brosur yang menjelaskan beberapa layanan tentu membutuhkan ruang berbeda dibanding selebaran untuk satu promo.
Cara distribusi
Brosur yang dibagikan di jalan mungkin perlu ringkas dan mudah dibawa. Brosur untuk presentasi bisnis dapat menggunakan format berbeda.
Jumlah lipatan
Brosur dua lipatan atau tiga panel memungkinkan informasi dipisahkan menjadi beberapa bagian.
Anggaran cetak
Ukuran kertas, jumlah sisi, jenis kertas, jumlah warna, dan finishing dapat memengaruhi biaya produksi.
Cara penyimpanan
Jika brosur akan dimasukkan ke dalam kemasan produk, amplop, atau rak khusus, dimensinya perlu diperhitungkan sejak awal.
Format yang tepat adalah format yang membantu pesan tersampaikan dengan baik sekaligus praktis untuk penggunaan sebenarnya.
6. Gunakan Foto dan Teks yang Benar-Benar Siap Cetak
Desain yang terlihat tajam pada layar belum tentu menghasilkan cetakan yang sama. Foto beresolusi rendah, teks terlalu kecil, warna dengan kontras rendah, maupun margin yang terlalu dekat dengan garis potong dapat menurunkan kualitas hasil akhir.
Karena itu, file sebaiknya dipersiapkan sejak awal untuk kebutuhan cetak.
Adobe menyarankan penggunaan gambar beresolusi sekitar 300 dpi untuk materi yang akan dicetak agar kualitas gambar tetap memadai. Panduan tersebut juga menekankan pentingnya memilih jenis huruf yang mudah dibaca dan membatasi terlalu banyak variasi font karena dapat membuat desain terasa berantakan.
Foto produk sebaiknya berasal dari gambar yang cukup tajam, mempunyai pencahayaan baik, dan merepresentasikan produk sebenarnya.
Hindari memperbesar file gambar kecil secara berlebihan karena detailnya dapat terlihat pecah saat dicetak.
Teks kecil juga perlu diperiksa dalam ukuran sebenarnya. Tulisan yang terlihat jelas ketika desain diperbesar 200 persen di monitor belum tentu nyaman dibaca setelah menjadi brosur fisik.
Jika file akan dikirim ke percetakan, tanyakan spesifikasi yang mereka perlukan, termasuk format file, sistem warna, bleed, margin aman, dan resolusi gambar. Setiap penyedia jasa dapat memiliki alur produksi yang berbeda.
7. Cetak Sampel dan Periksa Sebelum Produksi Banyak
Tahap ini mudah dilewati karena desain sering terlihat sempurna di layar. Padahal, tujuan akhir brosur adalah menjadi benda fisik yang dilihat dan dipegang.
Adobe menyarankan untuk memeriksa salinan cetak sebelum brosur difinalisasi. Sampel fisik membantu mengevaluasi ukuran tulisan, keseimbangan desain, proporsi, margin, warna, serta bagaimana brosur terasa setelah dilipat.
Tidak harus langsung mencetak dalam jumlah besar.
Cetak satu atau beberapa contoh terlebih dahulu, kemudian lakukan pemeriksaan sederhana:
Apakah judul langsung terlihat?
Apakah teks masih nyaman dibaca?
Apakah foto cukup tajam?
Apakah nomor telepon benar?
Apakah QR code dapat dipindai?
Apakah ada kesalahan harga atau ejaan?
Apakah bagian penting terpotong saat brosur dilipat?
Apakah warna masih cukup kontras ketika dicetak?
Pengecekan semacam ini terlihat sederhana, tetapi kesalahan satu angka pada nomor kontak atau harga bisa membuat seluruh batch brosur harus dicetak ulang.
Baca juga artikel menarik lainnya tentang: Stiker Kemasan Makanan Penting untuk Produk UMKM.
Apa Saja Isi Brosur UMKM yang Efektif?
Tidak semua brosur harus mempunyai susunan yang identik. Namun, pembaca pada dasarnya membutuhkan jawaban terhadap beberapa pertanyaan sederhana: siapa bisnis ini, apa yang ditawarkan, apa manfaatnya, dan bagaimana cara menghubunginya. Jika empat pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan cepat, brosur sudah memiliki fondasi komunikasi yang cukup kuat. Elemen berikut dapat disesuaikan berdasarkan kebutuhan usaha.
Judul yang Menjelaskan Penawaran
Judul merupakan salah satu elemen pertama yang kemungkinan dilihat pembaca. Karena itu, hindari judul yang terlalu umum apabila tidak memberikan konteks apa pun.
Judul dapat langsung menyampaikan produk, solusi, atau manfaat yang sedang ditawarkan.
Daripada hanya menulis “Produk Kami”, misalnya, judul dapat lebih spesifik menjelaskan kategori produk atau manfaat yang relevan. Pilihan akhirnya tetap perlu disesuaikan dengan karakter merek.
Deskripsi Usaha yang Ringkas
Profil usaha tidak perlu berubah menjadi cerita panjang mengenai sejarah perusahaan. Dalam brosur promosi, ruang lebih baik digunakan untuk informasi yang membantu calon pelanggan memahami bisnis.
Tuliskan secara ringkas apa yang dilakukan usaha, untuk siapa layanan tersebut tersedia, serta hal utama yang membedakannya.
Jika sejarah perusahaan memang menjadi nilai penting—misalnya usaha keluarga dengan pengalaman puluhan tahun—informasi tersebut dapat disebutkan secara singkat selama dapat diverifikasi.
Produk, Layanan, atau Penawaran Utama
Brosur dapat menjadi tempat untuk menampilkan produk atau layanan pilihan. Tidak perlu selalu menampilkan seluruh katalog.
Pilih produk yang paling sesuai dengan target calon pelanggan atau kampanye yang sedang berjalan.
Gunakan nama yang jelas, foto yang representatif, serta deskripsi pendek. Jika harga berubah cukup sering, pertimbangkan apakah lebih baik mencantumkan harga atau mengarahkan pelanggan ke kanal yang selalu diperbarui.
Call to Action yang Jelas
Setelah membaca brosur, calon pelanggan perlu mengetahui langkah selanjutnya. Inilah fungsi call to action atau CTA.
CTA dapat berupa ajakan menghubungi WhatsApp, mengunjungi toko, melihat katalog, memindai QR code, mengikuti akun media sosial, atau membeli melalui marketplace.
Hindari menyediakan terlalu banyak tindakan sekaligus. Pilih satu atau dua jalur utama sehingga pembaca tidak kebingungan menentukan langkah berikutnya.

Desain brosur yang terlalu ramai dan tidak terstruktur dapat membuat informasi sulit dipahami oleh calon pelanggan.
Kesalahan yang Sebaiknya Dihindari Saat Membuat Brosur
Brosur bisa terlihat profesional tetapi tetap gagal menyampaikan pesan apabila struktur informasinya keliru. Permasalahan yang sering muncul biasanya bukan karena perangkat desain yang digunakan, melainkan karena terlalu banyak informasi dan kurangnya prioritas. Materi promosi harus dibuat dari sudut pandang pembaca, bukan hanya dari sudut pandang pemilik bisnis. Apa yang dianggap penting oleh pemilik usaha belum tentu menjadi hal pertama yang ingin diketahui calon pelanggan.
Beberapa kesalahan yang sebaiknya dihindari antara lain memasukkan paragraf terlalu panjang, menggunakan terlalu banyak jenis huruf, menempatkan teks di atas foto yang membuatnya sulit terbaca, memakai gambar beresolusi rendah, serta tidak memberikan ruang kosong yang cukup.
Kesalahan lain yang tidak kalah penting adalah lupa memeriksa kembali informasi kontak.
Nomor telepon, alamat, website, akun media sosial, QR code, harga, dan tanggal promosi perlu diverifikasi sebelum file masuk proses produksi.
Materi cetak berbeda dengan unggahan media sosial yang dapat diedit dalam hitungan menit. Setelah ratusan lembar selesai dicetak, kesalahan kecil dapat menjadi pemborosan yang cukup mahal.
Cetak Brosur Sendiri atau Menggunakan Jasa Percetakan?
UMKM saat ini mempunyai beberapa pilihan dalam memproduksi brosur. Untuk kebutuhan terbatas, materi sederhana dapat dicetak menggunakan printer milik sendiri selama perangkat, tinta atau toner, serta jenis kertasnya sesuai. Sementara itu, produksi dalam jumlah besar, ukuran tertentu, atau kebutuhan finishing khusus lebih praktis dikerjakan melalui percetakan. Pilihan terbaik akan bergantung pada volume dan standar hasil yang dibutuhkan. Karena itu, biaya per lembar sebaiknya bukan satu-satunya pertimbangan.
Mencetak sendiri memberikan fleksibilitas ketika jumlah brosur yang dibutuhkan tidak banyak atau materi sering berubah. Sebagai contoh, usaha dapat mencetak materi untuk promo mingguan tanpa menyimpan stok terlalu banyak.
Namun, kualitas hasil cetak sangat dipengaruhi oleh kombinasi printer, tinta atau toner, jenis kertas, pengaturan perangkat, serta file yang digunakan.
Percetakan profesional lebih cocok ketika brosur perlu dicetak dalam volume tinggi, menggunakan jenis kertas tertentu, membutuhkan lipatan presisi, laminasi, atau finishing lainnya.
Apa pun metodenya, lakukan pengecekan contoh fisik terlebih dahulu sebelum memproduksi banyak.
Kualitas Cetak Ikut Menentukan Kesan Brosur
Desain merupakan fondasi, tetapi hasil cetak menjadi wujud akhir yang benar-benar dilihat pembaca. Warna yang tidak konsisten, teks yang kurang tajam, atau gambar yang terlihat pudar dapat mengurangi dampak desain yang sebenarnya sudah baik. Sebaliknya, kualitas cetak yang sesuai membantu menjaga tipografi, foto, dan identitas visual tetap mudah dikenali. Karena itu, kebutuhan tinta atau toner juga perlu disesuaikan dengan perangkat serta jenis dokumen yang akan dicetak.
G&G Indonesia menyediakan berbagai pilihan tinta dan toner kompatibel untuk sejumlah merek dan tipe printer. Situs resminya menampilkan kategori produk seperti toner monokrom, toner warna, serta tinta art paper untuk tipe printer tertentu, termasuk produk yang kompatibel dengan Epson L8050 dan L18050.
Hal penting yang perlu diperhatikan adalah kompatibilitas. Produk tinta atau toner sebaiknya dipilih berdasarkan model printer yang digunakan, bukan sekadar berdasarkan merek printer secara umum.
Untuk cetak brosur dalam jumlah terbatas di kantor atau tempat usaha, pemilihan perangkat, kertas, dan consumable yang tepat dapat membantu mempertahankan konsistensi hasil. Sementara untuk kebutuhan yang lebih kompleks atau volume tinggi, pelaku UMKM tetap dapat mempertimbangkan jasa percetakan profesional.
Brosur yang Efektif Bukan yang Paling Ramai, tetapi yang Paling Jelas
Brosur tidak mempunyai waktu lama untuk mendapatkan perhatian. Dalam beberapa detik pertama, pembaca perlu memahami apa yang sedang ditawarkan dan mengapa informasi tersebut relevan bagi mereka. Karena itu, desain yang efektif bukan desain yang memenuhi setiap sudut kertas, melainkan desain yang mampu mengarahkan perhatian kepada informasi yang tepat.
Mulailah dari tujuan, pilih informasi yang benar-benar dibutuhkan, bangun hierarki visual, tentukan ukuran sesuai penggunaan, dan pastikan file memang siap untuk proses cetak. Setelah itu, jangan melewatkan tahap pemeriksaan sampel fisik.
Bagi UMKM, pendekatan tersebut membuat brosur lebih dari sekadar selembar kertas promosi. Materi ini dapat menjadi alat komunikasi yang membantu memperkenalkan usaha, menjelaskan produk, serta mengarahkan calon pelanggan menuju tindakan berikutnya.
Jika bisnis kamu mencetak brosur, proposal, katalog, materi promosi, atau dokumen usaha secara mandiri, pemilihan tinta dan toner yang kompatibel dengan printer juga perlu diperhatikan agar hasil cetak tetap konsisten. G&G Indonesia menyediakan berbagai pilihan tinta dan toner untuk beragam tipe printer serta kebutuhan cetak. Untuk mengetahui produk yang sesuai dengan printer yang digunakan, kamu dapat menghubungi marketing G&G di +6287788628316, mengunjungi official marketplace G&G Indonesia di Shopee melalui https://shopee.co.id/ggindonesiabyinnoprint, atau melihat informasi produk melalui https://ggimage.co.id/. Situs resmi G&G Indonesia juga menyediakan informasi kompatibilitas produk untuk membantu pengguna menyesuaikan tinta atau toner dengan tipe printer mereka.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Apa saja yang harus ada dalam brosur UMKM?
Isi brosur perlu disesuaikan dengan tujuannya, tetapi biasanya dapat mencakup nama usaha, penawaran utama, produk atau layanan, keunggulan yang relevan, informasi kontak, serta call to action. Informasi sebaiknya dibuat ringkas agar mudah dipindai oleh pembaca.
Ukuran brosur apa yang cocok untuk UMKM?
Tidak ada satu ukuran yang paling tepat untuk seluruh kebutuhan. Format A4, A5, maupun brosur lipat dapat digunakan sesuai jumlah informasi, metode distribusi, anggaran, dan cara brosur akan disimpan. Seri ukuran A dan B untuk berbagai kebutuhan cetak diatur dalam standar ISO 216.
Apa yang membuat desain brosur mudah dipahami?
Hierarki visual yang jelas membantu pembaca mengetahui informasi mana yang perlu dilihat terlebih dahulu. Gunakan judul yang menonjol, subjudul yang terstruktur, teks isi yang mudah dibaca, ruang kosong yang cukup, serta foto yang relevan. Hindari memberikan bobot visual yang sama kepada semua elemen.
Berapa resolusi gambar yang baik untuk cetak brosur?
Adobe merekomendasikan gambar sekitar 300 dpi untuk menjaga kualitas materi yang akan dicetak. Namun, kualitas akhir tetap dipengaruhi oleh ukuran penggunaan gambar, file sumber, printer atau mesin cetak, kertas, tinta, dan proses produksinya.
Apakah brosur sebaiknya dicetak sampel terlebih dahulu?
Ya. Sampel cetak membantu memeriksa ukuran teks, keseimbangan layout, margin, warna, kualitas gambar, serta posisi elemen setelah brosur dilipat. Pemeriksaan fisik penting karena hasil di layar tidak selalu menggambarkan hasil cetak secara akurat.